Senin, 09 Maret 2015

Lagu Anak Kemana ? Mungkin Sedang Main Petak Umpet


(sumber foto : http://www.kapanlagi.com/intermezzone/rindu-dengan-trio-kwek-kwek.html)


Sesuai dengan Keppres No. 10 tahun 2013, 9 Maret ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Keppres ini tentunya membanggakan, karena akhirnya musik, yang menjadi salah satu produk budaya paling digemari di Indonesia, dihargai oleh pemerintah dengan dibuatkan hari khusus. Meski saya juga tidak terlalu mengerti apa esensinya.

Ya, rasanya musik tidak akan pernah bisa lepas dari masyarakat manapun di dunia ini. Indonesia sendiri dengan ribuan suku, memiliki musik khasnya sendiri. Namun bukan musik tradisional yang akan dibicarakan kali ini, musik, lagu utamanya, yang agak lebih luas, namun sebenarnya beririsan dengan musik tradisi juga.

Melihat gambar di atas, anda-anda yang pernah hidup di Indonesia pasti tidak asing. Trio Kwek-Kwek, grup vokal anak-anak yang tahun lahirnya sama dengan saya ini merupakan salah satu grup yang sangat fenomenal saat itu, tak kalah dengan grup maupun penyanyi dewasa. Grup yang beranggotakan Dhea Ananda, Affandy, dan Leony ini sudah memenangkan banyak penghargaan bergengsi, seperti dari Anugerah Musik Indonesia (AMI) maupun Panasonic Awards. Lagu-lagu mereka seperti "Katanya"ataupun "Jangan Marah" masih begitu lekat hingga sekarang, apalagi yang tumbuh sebagai anak-anak di era 1993-2000-an. 

Selain Trio Kwek-Kwek kita kenal juga penyanyi cilik lain seperti Joshua Suherman, Trio Saskia-Geovani-Angie, Chiquita Meidy, Maissy, Agnes Monica, Bondan Prakoso, hingga Tasya dan Tina Toon. Di era itu (era saya kecil) anak-anak mendapatkan tempatnya yang sesuai, karena penyanyi cilik saat itu menyanyikan lagu yang "sesuai" dengan umur mereka. Namun perlahan, semenjak 2003-an, setelah Petualangan Sherina tayang dan Peterpan (sekarang NOAH kalau ga tau) mulai booming, menurut saya lagu-lagu anak mulai kehilangan popularitasnya. 

Nah nah nah, ini lagu anak-anak pada kemana? Mungkin sedang main petak umpet. Yak judul postingan ini tidak sekedar judul, tapi adalah sebuah harapan. Dalam permainan petak umpet tentu saja yang bersembunyi nantinya akan muncul walaupun pada akhirnya tidak dapat ditemukan oleh yang jaga. Ini pula yang saya dan banyak orang lain harapkan, yakni lagu anak keluar dari persembunyiannya, tentu keluar yang tidak sekedar sembunyi lagi.

Kembali mencoba menjawab pertanyaan kemana, yang jelas bukan karena alamat palsu. Lagu anak-anak "menghilang" bukan karena sebab. Menurut pemahaman saya ada beberapa hal yang membuat lagu ini masih nyaman dalam persembunyiannya.

"Peterpan" menjadi alasan nomor satu. Loh kok, apa salah band satu ini? Bukan band-nya yang saya soroti, tetapi kemunculan dan tenarnya Peterpan menandai era budaya populer, dalam hal ini lagu pop, bangkit dan demamnya menyerang banyak khalayak, termasuk anak. Kemunculan lagu-lagu pop yang se-easygoing lagu anak diterima dengan baik oleh masyarakat. Ini didukung dengan semakin kuatnya media, terutama televisi pada era setelah Orde Baru. Televisi begitu merebak, dengan semakin berkembang dan munculnya saluran-saluran televisi swasta baru. Seiring dengan semakin banyak pula yang memiliki televisi, maka akan semakin mudah bagi para pelaku industri ini untuk mendapatkan konsumen. Musik pun menjadi salah satu pilihan utama selain sinetron.

Di awal-awal 2000-an, sebenarnya televisi masih mempertahankan acara anak yang menayangkan lagu-lagu anak seperti "Ci Luk Ba (SCTV)" atau "Tralala-Trilili(RCTI)". Namun seiring berjalannya waktu, televisi pun lebih memilih acara kartun/anime sebagai pilihan untuk tayangan anak. Tempat untuk musik pun akhirnya hanya diisi oleh musik-musik untuk kalangan remaja (dan dewasa). Gawatnya, anak-anak merupakan salah satu konsumen utama televisi, seringkali akhirnya juga harus mendengar lagu-lagu itu. Ya berhubung tidak dilarang juga oleh orang tuanya, dan tak ada pilihan lagu lain, akhirnya mau tak mau ya mendengarkan, akhirnya suka dan akhirnya beli VCD/DVD bajakannya (eh).

Nah, disinilah "petaka" dimulai. Televisi menawarkan produk dan konsumen masih belum terliterasi dengan baik sehingga menerima begitu saja. Akibatnya permintaan dari konsumen tidak terlalu berbeda jauh dengan apa yang selama ini ditawarkan, atau dengan kata lain tidak ada "perlawanan" dari konsumen terhadap konten yang ada. Disinilah alasan-alasan lain yang "menyembunyikan" lagu anak mulai bermunculan. Alasan kedua adalah uang atau keuntungan. Sebenarnya agak bingung juga harus menempatkan uang atau kebangkitan lagu pop di alasan paling awal. Tapi berhubung saya berbaik sangka bahwa mereka (para musisi macam Peterpan dkk) berkarya bukan untuk mencari uang semata maka saya tempatkan di awal (:P). Kembali ke masalah uang, ini tentunya berkaitan dengan rating acara. Asumsi saya, rating acara yang "murni" untuk anak kalah dibanding dengan acara musik remaja yang ditonton hampir semua kalangan. Industri pun akhirnya lebih memilih untuk mengembangkan acara semacam ini dibanding menyelenggarakan acara anak, yang butuh biaya tapi incomenya tak seberapa. Akibat lanjutannya, mereka, para pencipta lagu anak pasti juga akan berpikir realistis, darimana mau dapat untung kalau ruang untuk menampilkan karya mereka. Radio? Sulit bagi radio untuk menyaingi kehebatan televisi. VCD/DVD? Yang bajakan lebih diminati. Lalu buat apa bikin lagu anak? Demi idealisme? Idealisme katanya hanya milik anak muda, sedangkan anak muda sudah punya lagunya sendiri.

Kemana para pencipta lagu anak yang dulu top itu? Mencoba menelusuri salah satu pencipta yang sangat terkenal yaitu Papa T. Bob, berita yang saya dapat agak mengecewakan. Pencipta yang sudah melambungkan banyak artis cilik ini pada tahun lalu dilaporkan karena kasus penipuan. Perjudian pun dikaitkan dengan kehidupan beliau. 

Industri media, terutama entertainment merupakan industri yang tidak pernah menjanjikan kepastian. Dalam artian bisa jadi suatu saat akan sangat terkenal, di waktu lain tak dianggap layaknya butiran debu. Untuk bertahan di industri seperti ini "kaderisasi" nampaknya juga menjadi hal yang penting. Namun baik di politik maupun musik, "kaderisasi" bukan hal mudah. Apalagi seni adalah masalah rasa, atau banyak yang bilang masalah bakat.Untuk hal ini rasanya saya setuju. Siapa yang tidak gatal mendengar para artis yang sok-sokan bisa nyanyi padahal suaranya .......  Disitu kadang saya merasa sedih.

Begitu pula untuk kasus lagu anak, "kaderisasi" masih belum berjalan dengan baik. Akan tetapi sebelum bicara lebih lanjut akan saya bahas dulu mengenai alasan ketiga yakni orang tua. Tidak bisa dipungkiri yang paling dekat dengan anak-anak adalah orang tua. Mereka lah yang mengenalkan banyak hal ke anaknya, termasuk lagu.  Tak hanya sekedar mengenalkan namun juga mengawasi. Di era pasca krisis moneter, asumsi saya, orang tua banyak yang banting tulang untuk mencari uang, setelah dilanda krisis pada 1997. Akibatnya : punya duit lebih --> bisa beli televisi --> makin sibuk nyari duit --> anaknya kurang diperhatikan dan diawasi. Sekali ini hanya asumsi saya berdasarkan kasus umum. Nah orang tua pun akhirnya juga kurang dekat dengan anak sehingga kurang mengenalkan pula lagu-lagu yang pantas mereka dengar dan nyanyikan. Atau mungkin mereka dekat dengan anak, menemaninya menonton televisi, tetapi membiarkannya mengenal lagu-lagu yang kurang pas bagi anak. Atau lagi, orang tau akan hal itu, tetapi tetap merasa cuek, tetap merasa tidak perlu mempermasalahkan media yang tidak memberi ruang bagi anak. Hal seperti ini saya kira wajar, mengingat pada saat itu Indonesia baru saja mengenal demokrasi, mengenal kebebasan berpendapat, setelah sebelumnya hidup di era ketebasan berpendapat, kalau berpendapat aneh-aneh ya di tebas.

Orang tua pun lebih untuk menuruti keinginan anaknya. Akhirnya kalaupun anak minta VCD kartun plus satu album Peterpan atau Ungu ya ga masalah, meski umurnya masih 10 tahun. Yang penting anak senang orang tua bisa tenang cari uang.

Kalau hal seperti terus berlangsung, sampai ibukota Indonesia pindah pun lagu anak akan terus sulit mendapatkan kembali tempatnya. Kabar gembira untuk kita semua, angin segar sedikit mengalir di masa-masa sekarang ini, ketika masyarakat sudah lebih terdidik untuk mempertanyakan tayangan yang mereka tonton. Upaya untuk mengembalikan ruang bagi lagu-lagu anak mulai digiatkan. Sekarang banyak kita temui acara-acara semacam pencarian bakat yang diikuti oleh anak. Gamblang saja dulu pernah ada AFI Jumior dan sekarang Indonesian Idol junior. Anak-anak yang ikut ajang ini tak perlu diragukan lagi kualitas suaranya. Namun seperti yang saya bilang sebelumnya, "kaderisasi" belum berjalan baik. Belum baik karena meskipun pesertanya anak-anak, lagunya banyak yang bukan lagu anak. Mungkin bisa dimaklumi karena semasa hidup mereka jarang sekali atau bahkan tidak pernah sama sekali melihat lagu anak di televisi. Tetapi mau sampai kapan dimaklumi ?

Angin segar lain adalah mulai bermunculan lagi artis-artis yang berlabel artis cilik. Tetapi tak beda jauh, lagu mereka berkisaran cinta, meskipun cinta monyet. Ya memang sih anak-anak, terutama yang sudah mau SMP atau pas SMP sering mengalami cinta monyet tetapi perlu dipikirkan juga bahwa fans-fans dari artis cilik baru ini banyak yang masih berusia di bawah sepuluh tahun.

Untuk masalah pencipta saya tidak tahu bagaimana "kaderisasi"nya, tetapi semoga saja ada mereka yang peduli dan tak lelah mencipta lagu anak.

Kalaupun memang "kaderisasi" ini benar-benar sulit, harapan disematkan pada band-band pop yang kini digandrungi anak-anak. Harapan semacam apa? Harapan bahwa mereka menciptakan lagu yang bertemakan anak, kalaupun tidak ya membuat lagu yang temanya netral, bisa dinyanyikan oleh anak-anak. dengan aman (alias kagak cinta-cintaan melulu). Saya yakin, meskipun tidak bertemakan "dewasa" sebuah lagu bisa tetap terkenal. Apa yang dilakukan Duta dan Eross (Sheila on 7) yang pernah duet bareng Tasya dengan menyanyikan lagu "Jangan Takut Gelap" bisa dicontoh. Atau ingatkah kalian dengan band Air melalui lagu "Bintang" yang ngetop, atau band Wayang dengan lagu "Dongeng" ? Musiknya mungkin tidak "anak-anak" tetapi liriknya netral, bisa dinyanyikan tanpa mikirin cinta-cintaan dan tembak-tembakan.

Optimisme, itulah yang harus tetap tertanam, bahwa suatu saat nanti lagu anak kembali ke tempatnya, keluar dari bawah meja tempatnya bersembunyi. Musik adalah milik semua, tapi tidak semua berkesempatan mendengarkan musik yang sesuai dengan hak mereka. Sesuram apapun nasib lagu-lagu anak jaman sekarang, selama kita Malu Sama Kucing , harapan itu akan selalu ada.



(bonus link salah satu lagu anak, berhubung Rupiah lagi lemah juga :v

https://www.youtube.com/watch?v=3xVeffI9ovQ)



Minggu, 01 Maret 2015

Spot-Spot Kece buat Foto di Bantul...

Kamu sedang mampir di Jogja? Bosan dengan spot untuk foto yang itu-itu aja? Mau foto buku tahunan tapi suasananya beda? Sudah terbesit keinginan untuk mencoba daerah lain untuk mengabadikan gaya anda? Cobalah ke selatan, ke Bantul, salah satu Kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ada apa sih di Bantul? Parangtritis? Ya elah bosen banget ketika pantai satu itu selalu jadi rujukan yang paling dikenal untuk wisata yang otomatis lumayan juga buat foto-foto sih sebenarnya. Tapi kalian bosen ga sih?

Nih nih nih, berhubung orang yang nulis ini sudah hidup di Bantul selama kurang lebih 21 tahun lebih beberapa bulan beberapa hari beberapa jam menit dan detik, tak kandhani panggonan kece nggo poto-poto, monggo...


1. SAWAH

Bantul, dimata sebagian orang-orang yang sudah kebanyakan menatap gedung-gedung masih dianggap sebagai daerah yang ndeso plus blusuk. Well, itu tidak sepenuhnya benar plus tidak sepenuhnya salah. Tapi sisi positif dari hal itu adalah di Bantul masih ditemui banyak daerah persawahan. Yak makanya sawah menjadi spot alternatif yang menurut saya paling kece di Bantul. Pernah gambar dua gunung tengahnya ada jalan/sungai kemudian kiri kanannya ada sawah? Yups di Bantul pemandangan seperti 100% POSSIBLE !!! SANGAT MUNGKIN. Jika menengok ke utara, apabila cuaca cerah, dapat dilihat Gunung Merapi dan Merbabu yang duduk bersama layaknya manten. Jika jeli, kamu bisa mengombinasikan gunung, sawah, jalan dan sungai/kali dengan sangat kece. Selain itu jika menengok ke selatan, perpaduan antara sawah dan pegunungan Seribu bisa sesejuk senyum kekasih anda.. Perlu bukti? Silakan dinikmati hasil jepretan saya berikut.. hehe


                 Jika cuaca cerah dan langit sangat biru, sawah bisa menjadi spot yang sangat kece
                         (Lokasi Prenggan, perbatasan Kecamatan Bantul dan Bambangipuro)

       

Atau bisa juga foto rame-rame kayak mbak-mbaknya ini, ditambah ada bapak-bapak yang baru saja nyari rumput di belakangnya, menambah suasana sawahnya semakin alami.. XD
(Lokasi : Kedon, Sumbermulnyo, Bambanglipuro, Bantul alias dusun tempat saya tinggal.. hahaha)


Nah, ini diambil dari daerah sawah yang berdekatan dengan pegunungan Seribu, gimana gak menyejukkan mata?
(Lokasi : Kecamatan Pundong -lupa tepatnya dimana, maaf,,hehe-)




Kalau padinya sudah mulai muncul, perpaduan warna kuning hijau semakin membuat sawah lebih cerah
(Lokasi : Jalan Prenggan-Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul)


Tapi perlu diingat, jika ingin mengambil gambar harus cek sedang musim tanam apa, kalau ingin mendapatkan foto dengan background sawah dengan penuh tanaman, jangan sampai pas udah kesana cuma ada tanah doang (kecuali emang mau begitu :P). Cek juga cuacanya, kalau cerah sudah pasti akan mempermudah untuk pengambilan gambar yang baik. Saran saya sih pagi (jam 06.00-10.00 WIB) atau sore sekalian (15.00 - 17.-00 WIB).

2. MAKAM

Err.. yakin? hahaha.. sebenarnya memasukkan makam sebagai alternatif spot foto agak gimana gitu ya, tapi memang di Bantul ada Makam yang dijadikan tempat wisata, jadi ya wajar kalau kadang dipake buat foto-foto juga. Yang terkenal tentu saja ada di Kecamatan Imogiri, yakni Makam Raja-Raja Mataram dan Makam Seniman dan Budayawan. Kedua makam ini letaknya berdekatan jadi sekali datang bisa dapat keduanya.. hehehe.. Tapi kalau mau coba makam-makam yang lain, entah itu makam tokoh tertentu atau makam umum ya monggo, resiko tanggung sendiri.. :p

Ini adalah anak tangga yang ada di Makam Seniman. Bisa diatur pencahayaan lebih gelap jika ingin menampilkan gaya gloomy.. hehehe
(Lokasi : Makam Seniman dan Budayawan Imogiri)

Masih di Makam Seniman

Nah kalau ini gerbang dari Makam Senimannya

Kalau ini di Makam Raja-Raja Mataram, ada beribu anak tangga di sini yang bisa jadi spot menarik untuk foto-foto
(Lokasi : Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri)


Di salah satu sudut Makam Raja, posisinya ada di atas bukit


Kedua Makam tersebut berada di kawasan konservasi hutan sebenarnya, jadi kalian juga bisa foto-foto di hutan sekitarnya

Tapi jangan pipis sembarangan.... pffffttttt



Jika ingin sebebas-bebasnya berfoto di Makam tersebut (yang Imogir tadi) saran saya sih jangan pas weekend, biar lebih leluasa (karena sepi) hehe. Dan waktu pagi paling saya rekomendasikan karena ada pemandangan lain yang bisa kalian lihat. Apakah itu? Terus baca postingan ini.. hehe

3. JEMBATAN

Ada dua sungai besar yang mengalir di daerah Bantul, yakni Sungai Progo dan Sungai Opak. Maka wajar jika banyak jembatan di Bantul. Nah nah nah, jembatan pun bisa jadi opsi buat spot foto-foto. Beberapa yang bisa dijadikan spot antara lain Jembatan Srandakan dan Jembatan Gantung di Imogiri (kebetulan -sialnya- foto saya tentang dua jembatan ini hilang hiks). Tetapi kalau mau muter-muter banyak Jembatan lain yang bisa dijadikan spot foto. hehe..

Jembatan Kretek, sebelum pintu gerbang kawasan Parangtritis, tapi kalau mau foto di sini lihat sikon ya, jangan pas rame.. hehehe
(Lokasi : Kecamatan Kretek, Bantul)

Masih di Jembatan Kretek

Kalau ini di Jembatan Soko, dimana jembatan baru (yang ada trotoarnya) bersanding dengan jembatan lama ( yang ada tiang segitiga)

(Lokasi : Penghubung Desa Seloharjo - Panjangrejo, Pundong, Bantul)


Sunrise dari Jembatan Soko

Perlu diingat, keselamatan adalah hal yang utama, dan hormati penguna jalan lain. Jembatan adalah jalur transportasi, jadi kalau mau berfoto pilih waktu ketika sepi atau trafiknya rendah, plus jangan sembrono ya. :)

4. JALAN

He? Ngapain foto di jalan kurang kerjaan aja.. Ntar malah dimarahin lagi. Ya tapi prinsipnya sama seperti jembatan tadi, ingat kondisi.. hehehe. Kebetulan di Bantul kawasan selatan, baru saja selesai dibangun Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS). Lokasi inilah yang bisa jadi spot kece buat foto selanjutnya. Akhir-akhir emang banyak, entah pengunjung pantai -emang deket pantai ini jalannya- atau pengendara yang sekedar lewat, mengabadikan gayanya di tempat ini.

Foto bareng-bareng ditengah jalan seenak jidat kayak gini, kapan lagi?

(Lokasi : Jalan Jalur Lintas Selatan, Srigading (Sanden)- Poncosari (Srandakan), Bantul


Mau pose apapun bisa, mau tidur juga bisa :v


Atau bikin cover album kece macam ini? 

Memenuhin jalan cuma buat foto? Monggo

Hunting sunrise? Very Recommended!

Sambil menikmati sunrise seperti ini bisa sambil jogging atau bersepeda lho..

Selain JJLS ada lagi ga? Ya kalau situ mau foto di jalan Parangtritis ya monggo, mau di jalan lain ya silakan, tapi tetep hati-hati dan hormati pengguna jalan yang memang niatnya memakai jalan sesuai fungsinya.. hahahaha..

5. BUKIT

Di samping pemandangan 2 gunung, 2 sungai, Bantul juga terdapat dua daerah perbukitan (menurut saya.. haha), yakni di Timur-Selatan ( Pegunungan Seribu, Kecamatan Kretek, Imogiri, Pundong) dan Barat (Kecamatan Pajangan, Sedayu). Nah dari bukit-bukit ini menyimpan banyak spot-spot yang enak buat foto, terutama daerah agak lapang di puncak sehingga bisa melihat Bantul dari atas. Yang sudah banyak dikunjungi adalah Kebun Buah Mangunan (yang malah saya sendiri belum pernah motret dari sana.. :P). Tetapi di daerah lain juga masih banyak potensi puncak bukit yang memberikan pemandangan menakjubkan.

Masih ingat Makam Raja-Raja di Imogiri? Kalau kalian mampir ke bukit yang ada di sebelah timurnya, pemandangan inilah yang bisa kalian lihat
(Lokasi : Makam Raja-Raja Mataram, Imogiri, Bantul)

Masih dari bukit Makam Raja-Raja Mataram

Kalau embunnya sudah agak menghilang, sawah akan terlihat dan perpaduanya dengan Merapi semakin cantik. Masih dari bukit Makam Raja-Raja Mataram

Sawah, Pantai, Langit Biru. Bisa kalian nikmati dari kawasan bukit Pegunungan Seribu, dekat Parangtritis

(Lokasi : Kampung Edukasi Watulumbung, Parangtritis, Bantul)


Masih dari Watulumbung, selain menikmati pemandangan ini kalian bisa makan-makan juga. Karena kawasan ini terdapat warung makannya juga. Namun hati-hati kalau kesini karena jalannya masih belum sepenuhnya diperbaiki.





Dari perbukitan daerah Barat, bisa mampir di daerah Pajangan. Kebetulan juga di daerah ini sedang dikembangkan daerah wisatanya.

(Lokasi : Bukit di sekitar Makam Sewu, Pajangan, Bantul)

Kalau sudah berfoto-foto di puncaknya, pastikan blusuk ke bawah bukitnya. Karena kalau beruntung, anda akan menemui kawasan yang sekarang lagi ngeteren yakni Curug alias Air Terjun.

6. CURUG/AIR TERJUN

Yaps, di sisi Timur maupun Barat perbukitan Bantul semuanya menyimpan potensi curug-curug yang tentunya banyak nyamuknya eh potensial buat jadi spot foto. Di Pajangan sekarang malah sudah semakin terkenal curug-curugnya seperti Banyunibo dan Pulosari. Mumpung masih belum terlalu ramai layaknya Sri Gethuk di Gunung Kidul, sempatkanlah mampir ke situ.. hahaha. Atau kalau mau benar-benar sepi, carilah curug-curug yang masih belum banyak nongol di Internet. Dimana? Yo golekono dewe..


Penampakan Curug Banyunibo, dengan batu bertingkat yang menjadi cirinya
(Lokasi : Sendangsari, Pajangan, Bantul)

Kalau naik ke "puncaknya", bisa kalian lihat kawasan sungai (kali) yang mengaliri Curug Banyunibo

Ga cuma spot enak buat foto, buat mandi juga enak kayaknya...

Atau mau nyari wangsit skripsi kayak mas nya ini? bisa.. :p

Ini salah satu Curug di Imogiri, tak tahu namanya, dan pas kesana musim kemarau jadi ya airnya dikit

Kalau ini curug di daerah Pundong, lupa namanya, nama daerahnya juga lupa.. hahahahahaha
(Lokasi : Pundong, Bantul)

Masih yang di Pundong tadi...

Coba, berapa kali anda melihat orang-orang yang menggunakan kaos biru di postingan ini? hahaha
Untungnya, kalau ke curug-curug di Bantul paling pol kalian cuma bayar parkir (kalau ada yang jaga), kalau ga ada ya yang penting jangan buang sampah sembarangan :)




7. SPOT-SPOT YANG UDAH SERING DI BAHAS DI INTERNET, ATAU DIMANAPUN, KEBON BELAKANG RUMAH, PASAR, YANG JELAS BUKAN DI MALL KARENA GA ADA

Udah capek ngetik, maka yang ketujuh kompilasi saja. Hahahaha... Banyak sebenarnya spot-spot di Bantul yang sebenarnya sudah di posting oleh banyak orang di Internet. Tinggal cek aja bagaimana bentuk aslinya karena yang di Internet banyak yang sudah di edit (termasuk postingan saya juga :p). Dimanapun, bagi saya Bantul semuanya menjadi spot yang menarik untuk foto maupun di foto. Mau pas sunrise, sunset, siang, malam, semua bisa, tergantung fotografernya, eh. Yang pasti mau foto dimanapun hormati hak orang lain dan jangan buang sampah sembarangan. :)

Sunrise dari Bendung Tegal, Kebonagung, Imogiri



Menikmati Sunrise di Bendung Tegal


Laguna Pantai Samas, Srigadeng, Sanden


Sendang Ngembel, Beji Wetan, Sendangsari, Pajangan



Kawasan Gumuk Pasir, Parangtritis, Kretek


Kawasan Gumuk Pasir, Parangtritis, Kretek


Kawasan Gumuk Pasir, Parangtritis, Kretek

Sunset dari daerah Gunungan, Sumbermulyo, Bambanglipuro

Sunset dari Ringroad Manding, Bantul


Sunset dari Jalan Samas Km 1, Selo, Palbapang, Bantul


Dan terakhir, setelah subuh dari Kedon, Sumbermulyo, Bambanglipuro


Gimana? Tertarik ke Bantul? Boleh banget lho mampir ke tempat-tempat ini atau tempat lain di Bantul, yang jelas, TETAP DI JAGA LINGKUNGANNYA, JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, FOTO ALAY GA PAPA YANG PENTING STOP VANDALISME DAN BUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA. Salam pecinta foto. :)

















(NB : Diperbolehkan menggunakan foto ini untuk kegiatan positif, asalkan jangan lupa mencantumkan nama fotografernya.. hehehe.. Untuk foto yang Gumuk Pasir pertama fotografernya adalah teman saya sendiri, namanya Nur Arief Darmawan, sementara untuk foto yang lain adalah jepretan si penulis. Bukan bermaksud apa-apa hanya saja mari budayakan menghargai karya orang lain. Terima kasih sebelumnya.)

Kamis, 05 Juni 2014

Mencoba Menyoal Bimbel

Halo semua, masih bersemangat menghadapi hidup yang dipenuhi foto-foto, iklan maupun debat-debat mengenai capres dimana-mana? Semoga tetap semangat dan sabar menghadapi semua.. muehehehe...

Bosan dengan hiruk pikuk capres beserta seribu kampanye-kampanye nyeleneh dan aneh baik di sosmed maupun media massa, saya mencoba menulis, curhat juga mungkin, terkait satu hal yang ya pasti dikenal siapapun...

Sebelum hiruk pikuk capres yang cuma 5 tahunan, tiap tahun kita disajikan info-info tentang Ujian Nasional, mulai dari sarapan bersama hingga keberadaannya yang selalu membawa masalah lama maupun baru tiap tahunnya. Mulai dari paketnya yang ngalahin paket di McD sampai teknik kecurangan yang makin asik dibuat semacam film konspirasi.. hahaha... Tekanan UN seolah begitu besar dan begitu penting, menyangkut hidup mati, harkat, martabat dan kerabat sehingga segala cara dihalalkan agar lolos darinya.

Tapi cara-cara lain yang halal juga dilaksanakan demi mensukseskan UN, di level individu tentunya, dengan menambah materi, pemahaman maupun jam belajar dengan mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Tak hanya saat UN saja bimbel diikuti, tapi menjelang Ujian (Nasional maupun masuk PTN) memang biasanya ada program-program khusus, intensif, demi melenggangkan putra-putri anda menuju kesuksesan.

Sebagai seorang pelajar, dua kali saya mengalami UN (SMP dan SMA) dan sekali ujian masuk PTN. Yang mainstream adalah, baik saat SMP maupun SMA banyak dari teman-teman saya mengikuti salah satu bimbel yang ada di Jogja. Dikenal sebagai kota pelajar, tak hanya banyak sekolahan maupun perguruan tinggi saja, jumlah bimbel di Jogja juga tidak sedikit. Paling tidak ada The Big Four  yang (menurut saya) selama ini dipilih yakni Primagama, SSC Intersolusi, Neutron dan Ganesha Operation. Meski sebenarnya ada juga bimbel yang lain tapi yang di parkirannya banyak motor biasanya keempat bimbel itu. hehe..

Layaknya orang tua lain, orang tua saya juga menawari apakah tertarik ikut bimbel atau tidak. Waktu SMP kelas 9, menjelang ujian, saya berfikir buat apa ikut bimbel lha wong materi nya saja gampang-gampang kok sebenarnya (sombong). Toh di sekolahan juga sudah ada les tambahan. Tetapi karena tertarik ingin tahu rasanya belajar di bimbel, akhirnya saya coba ikut namun hanya pada semester 2. Saya akhirnya memilih Primagama dan ya saya rasa bedanya cuma belajar pake AC dan tidak pakai seragam saja.

3 tahun berselang, tawaran yang sama datang. Apalagi SMA tidak cuma UN saja ada pula SNMPTN tulis (diriku waktu itu ga masuk undangan :P), jadi beban "sepertinya" lebih berat. Namun kali ini tawaran saya tolak bukan karena materinya gampang (SMA mah nyebelin materinya) tapi karena pemikiran kenapa harus buang-buang duit demi bimbel? Sebegitu tidak mampunyakah sekolah menyediakan pendidikan untuk menghadapi itu semua? Atau apakah saya benar-benar sebodoh itu sehingga harus menyia-nyiakan duit orang tua untuk memperkaya para pemilik bimbel itu? (huahahaha)

Yang menggelitik selanjutnya mengapa banyak sekali teman-teman saya yang ikut bimbel? Mengapa bimbel seolah menjadi senjata ampuh ketika ujian tiba? Mengapa teman-teman tampaknya lebih senang membawa modul bimbel daripada buku pelajaran? Mengapa cara-cara bimbel lebih disukai Padahal banyak diantara mereka yang lebih pintar dari saya. Pertanyaan-pertanyaan tidak penting ini justru lebih menarik untuk saya telaah dan jawab daripada pertanyaan mau kuliah dimana. Bahkan setelah kuliah beberapa tahun pertanyaan itu masih menggelitik.

Beberapa waktu yang lalu, saya membaca twit-twit dari Kreshna Aditya (@kreshna) pendiri @bincangedukasi, salah satu pemerhati pendidikan Indonesia. Beliau menuliskan tentang bagaimana pendidikan di Korea Selatan, yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik, "dikuasai" oleh bimbel-bimbelnya. Di Korea, pelajarnya dikenal sangat intens sekali belajar. Sangat jarang sepertinya bagi mereka untuk bebas bermain-main layaknya pelajar Indonesia. Di sana bimbel yang dikenal dengan Hagwon dianggap salah satu solusi terbaik untuk membuat anak menjadi pintar. Kepercayaan terhadap bimbel bahkan melebihi sekolah. Tingkat kepintaran anak seolah bisa dilihat dari bimbel mana yang diambil. Ada salah satu Hagwon yang sangat diminati (aku lupa namanya) dan dianggap sebagai yang terbaik. Tentunya biaya untuk menerima bimbingan mereka mahal harganya.

Lalu apakah hal itu terjadi di sini di Indonesia? atau simpelnya di Jogja, tempat saya berada? Kenyataan kita lihat banyak diantara teman-teman atau adek-adek kita yang orang tuanya rela merogoh kocek lebih dalam untuk bimbel. Memang tidak salah, memang ada diantara kita yang memang membutuhkan bimbel tetapi mari dipertimbangkan lagi. Banyak yang mengecam biaya sekolah mahal, buku-buku pelajaran mahal, "peralatan" sekolah mahal tapi kalau memasukkan anaknya ke bimbel menurut saya anda mengkhianati kecaman anda. Kapitalisme pendidikan tidak hanya di sekolah, tapi nyata terlihat pada bimbel. Untuk mengikuti program bimbel jelas harus membayar. Katakanlah rata-rata bimbel yang punya menetapkan tarif 2 juta, misal yang ikut kelas ada 20 orang total uang sudah 40 juta, belum jika ada 3 kelas misalnya menjadi 120 juta. Jika itu didapat dalam 1 tahun, dalam tiga tahun saja sudah hampir setengah miliar. Sebuah bisnis menggiurkan. Sebuah bisnis yang membawa pendidikan di dalamnya.

Memang bimbel memberikan lapangan pekerjaan, namun melihat keuntungan yang begitu besar bukan tidak mungkin yang terjadi di Korea akan terjadi di Indonesia. Namun perbedaannya, jika di Korea pelajarnya dikenal studyholic (tergila-gila akan belajar?) di Indonesia pelajarnya dikenal baru gerak kalau ada apa-apa. Baru mulai intens kalau mau ada ulangan, baru cari catatan sana-sini kalau mau ujian, baru mencari bimbel di kelas 12 kalau mau masuk perguruan tinggi yang diinginkan. Kecenderungan peserta bimbel adalah pelajar-pelajar yang galau akan ujian nasional maupun PTN. Meski saya tidak punya datanya tapi bisa dilihat bahwa banyak program yang ditawarkan, yang spesial spesial pakai telor terutama, terkait dengan UN maupun SNMPTN atau apapun lah namanya yang terus berganti layaknya anak alay yang ganti-ganti PP.

Hal yang wajarkah ini? sebagai orang yang percaya bahwa pendidikan ini milik semua dan tidak pantas diuangkan saya katakan tidak. Ada yag salah disini. Lebih tepatnya fenomena bimbel yang saya paparkan adalah buah dari ada kesalahan pendidikan di negara kita. Teringat stand up Pandji Pragiwaksono "Mesakke Bangsaku" yang menyinggung tentang standarisasi pendidikan. Inilah yang menjadi salah satu penyebab mengapa bimbel akhirnya diagung-agungkan. Standarisasi, yang diterapkan dengan mengadakan UN membuat pelajar mau tidak mau harus mencapainya. Kembali ke paragraf awal ada yang menggunakan cara buruk ada juga yang baik. Yang "baik" ini bisa saja masuk ke bimbel. Baik saya tandai karena ada indikasi serupa dengan yang terjadi di Korea. Kepercayaan terhadap sekolah memudar, padahal sebenarnya dari pihak sekolah sendiri juga sudah mengadakan les tambahan, yang menyita waktu bermain dan bereksplorasi para pelajarnya. Padahal dari yang saya alami, les tambahan dari sekolah sudah sangat cukup untuk membantu sukses UN. Menambah dengan bimbel hanya akan menambah otak dengan racun-racun karena semakin berkurangnya waktu rehat dan belajar dari luar kelas atau sekolah. Kembali ke stand up Pandji, diceritakan bahwa di Finlandia sekolah memberikan waktu belajar dalam kelas yang lebih sedikit dan lebih membebaskan pelajarnya untuk belajar hal-hal di luar kelas. Yang perlu digaris bawahi disini Finlandia adalah negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia.

Standarisasi juga memberikan tekanan kepada banyak pelajar. Bagi mereka yang mentalnya belum kuat bisa mengikis kepercayaan diri mereka, bahwa sebenarnya mereka bisa. Ini menjadi celah bagi bimbel dengan iklan-iklannya yang memberikan jalan terang bahwa mereka bisa memberikan keberhasilan dalam waktu singkat. Sistem UN juga menginginkan pelajarnya untuk berhasil dalam ujian yang singkat, hanya seminggu. Memikirkan tentang PTN pun biasanya pas kelas 12 saja, singkat. Klop ! Sama-sama singkat ! Akibatnya bimbel menjadi semacam encouragement bagi pelajar yang sebenarnya bisa tanpa harus mengeluarkan uang untuk bimbingan.

Tradisi belajar kelompok, yang sebenarnya lebih murah bahkan gratis, sayangnya mulai berkurang. Teman yang pintar justru dijadikan sumber contekan. Memang tidak semua tetapi tidak jarang kasus seperti itu kita temui di media, atau malah kita alami sendiri. Belajar kelompok, atau mentoring antar teman merupakan perwujudan bimbel yang sebenarnya, yang gratis, menurut saya menjadi salah satu cara efektif untuk menghadapi ujian semacam UN. Cukuplah uang kalian dibelikan untuk membeli soal-soal atau malah cukup download di internet atau minta pada guru, atau minta soal pada teman kalian yang terpaksanya ikut bimbel. :v Atau mungkin cara yang dilakukan almarhum guru Fisika saya sewaktu SMA dulu bisa dilaksanakan. Beliau menawarkan pada kami selaku muridnya, konsultasi materi pelajaran, semacam bimbingan belajar, yang dilaksanakan di rumah beliau. Saya tidak pernah mengikutinya tapi seingat saya ini gratis. Banyak diantara teman-teman saya yang datang ke rumah beliau walaupun sudah ikut bimbel berbayar (nah loh). Pendidikan seperti inilah yang menurut saya pantas ditiru, pendidikan yang tidak mementingkan dibayar atau tidak.

Panjang lebar saya bicara, sudah tentu ada yang setuju atau tidak. Tidak masalah tetapi yang ingin saya sampaikan adalah tetap percayalah pada diri sendiri, tak perlu keluarkan uang sia-sia demi mencapai sesuatu yang sebenarnya teman-teman bisa capai dengan gratis. Banyak jawara-jawara kelas semasa sekolah saya dulu yang tidak ikut bimbel. Kalau mereka bisa kenapa tidak? Saya yakin jawara-jawara kelas yang teman-teman kenal juga mau membantu anda, jika anda kesulitan, jadi kenapa harus ke bimbel? Dengan bertanya kepada teman bukankah itu juga membantu teman anda untuk evaluasi diri? Simbiosis mutualisme kan? Pikirkan kembali sebelum masuk bimbel, uang orang tuamu lebih baik untuk hal yang lain bukan? :)





Jumat, 16 Mei 2014

Ini salah satu tugas kuliah : MASA DEPAN INDUSTRI HIBURAN KOREA SELATAN DI DUNIA: SAMPAI KAPAN BERTAHAN ?

Sekali  kali ngepos yang rada serius ah, tugas kuliah... hahaha... ini opini lhoooo..

Sudah menjadi fenomena yang banyak diketahui dan dibahas oleh khalayak umum bahwa industri hiburan Korea Selatan menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian di dunia saat ini. Banyak pengamat mengatakan perkembangan dimulai dari booming-nya drama Korea di Tiongkok yang kemudian berlanjut di negara tetangga lain yakni Jepang bahkan hingga Asia Tenggara. Bahkan di Eropa dan Amerika pun juga tertarik. Kemudian berkembang pula salah satu industri yang sangat digemari oleh masyarakat dunia adalah musik Korea(terutama musik pop) , atau yang lebih dikenal dengan K-pop. Melalui penyanyi-penyanyinya, baik yang solo maupun grup (boy/girlband), lagu-lagu Korea mulai mendapat tempat dalam chart-chart musik dunia. Contohnya adalah girlband Wonder Girls’ melalui lagu Nobody pada tahun 2009 berhasil masuk 100 besar chart Billboard.[1] Selanjutnya produk-produk hiburan lain pun berkembang mengikuti langkah kedua industri diatas.
            Melihat bagaimana berkembangnya industri hiburan Korea sekarang ini tidak akan bisa lepas dari sejarah masa lalu. Memang pada masa lalu, terutama di era militer, industri yang diutamakan adalah manufaktur, namun bukan berarti hiburan tidak mendapat hiburan. Pemerintahan militer melakukan rekstriksi terhadap media dan hiburan asing serta mendorong media domestik untuk mengembangkan produk-produknya. Setelah era militer, industri hiburan tidak hanya semakin memperkuat diri di rumah sendiri, namun juga diperluas ke negara tetangga dan kemudian menyebar ke dunia hingga sekarang. Pertanyaannya, akan sampai kapan industri hiburan Korea Selatan ini bertahan di internasional ?
            Jelas bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Perlu melihat dari segala sisi untuk menganalisis lamanya masa hidup industri hiburan Korea di dunia. Namun paling tidak ada 3 hal yang bisa kita lihat, yang selama ini menentukan kesuksesan industri ini, yaitu : konsumen, pemerintah, dan infrastruktur pendukung. 
            Jika kita ingin menjual suatu produk sudah pasti kita harus mencari konsumen. Banyak sedikitnya konsumen akan menentukan kelangsungan produk tersebut. Industri hiburan Korea mempunyai konsumen yang sangat menjanjikan. Untuk konsumen domestik sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Di luar negeri, konsumen utama banyak berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara, dan cukup mendapat tempat juga di benua Eropa dan Amerika. Secara jumlah mungkin tidak besar, namun segmen yang dituju memberikan potensi yang berbeda. Ya, kawula muda merupakan segmen yang paling banyak menjadi konsumen dari industri hiburan Korea. Apa yang ditawarkan para remaja pecinta K-pop dan produk-produk lain adalah kecintaan mereka yang tinggi, dan terkadang berlebih sampai fanatik. Mari kita lihat contoh berikut ini : 1. Dari Korea Selatan, salah satu boyband yang sedang naik daun, EXO, akan mengadakan konser tunggal pada akhir Mei nanti. Tiket dijual pada 16 April lalu dan menciptakan rekor yang mencengangkan, karena habis dalam waktu 1,47 detik, luar biasa.[2] 2. Di Indonesia, tahun lalu dikunjung salah satu girlband papan atas Korea Selatan, yakni Girls’ Generation (SNSD), yang akan mengadakan konser bertajuk World Tour. Hampir sama dengan EXO, beberapa kategori tiket habis dalam waktu hanya 5 menit. [3] Dari dua contoh diatas dapat kita lihat betapa luar biasanya fans-fans dari para artis Korea. Tak hanya konser, banyak diantara mereka yang membeli merchandise, CD ataupun barang-barang lain yang terkait dengan idola mereka. Pendapatan yang diperoleh jelas mampu menyokong industri hiburan untuk terus mengembangkan usahanya.
            Selanjutnya adalah pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya. Baik secara langsung maupun tidak, banyak kebijakan dibuat untuk menyokong industri hiburan Korea. Era Kim Dae-jung menjadi salah satu pemerintahan yang menancapkan tonggak penting dalam perkembangan industri tersebut. Presiden Kim membuat banyak kebijakan-kebijakan untuk memajukan budaya Korea karena setelah krisis, dibutuhkan alternatif baru untuk kembali membangkitkan ekonomi yang sudah terpuruk. Pengembangan Kementrian Kebudayaan, fasilitasi arus modal, membentuk organisasi-organisasi khusus untuk mendukung penyebaran budaya merupakan beberapa contoh kebijakan yang dibuat oleh Presiden Kim. Selain itu pemerintah memberikan subsidi-subsidi ke beberapa industri hiburan. Misalnya saja subsidi ke ekspo-ekspo maupun konser musik bekerja sama dengan entertaintment agencies lokal seperti SM Entertaintment, Star Kingdom, dan Cube Entertaintment. [4] Pemerintah juga membantu mempermudah sistem distribusi melalui organisasi pendukung tadi, seperti misalnya Korea Record Center Network (KRCNet) yang merupakan investasi gabungan pemerintah dengan 15 studio rekaman.[5]
            Terakhir adalah infrastruktur pendukung, yang sebenarnya berkaitan erat dengan pemerintah karena mereka juga yang membuatnya. Salah satu infrastruktur yang mendukung industri hiburan Korea adalah internet. Seperti yang sudah banyak diketahui, internet Korea Selatan adalah yang tercepat koneksinya di dunia. Masyarakat mereka pun sangat melek terhadap teknologi karena dianggap akan sangat menunjang pendidikan. Hebatnya internet Korea tidak lepas dari rencana besar pemerintah yang memang juga ingin memajukan industri teknologi informasi. Dimulai dari sebelum krisis yakni 1996, setahap demi setahap Korea mulai memajukan internet melalui memajukan internet melalui Cyber Korea 21, e-Korea Vision 2006, Broadband IT Korea Vision dan U-Korea Master Plan , dengan sasaran menciptakan lingkungan yang berbasis teknologi informasi, baik masyarakat maupun pemerintah, sekaligus mampu menyediakan akses internet yang terjangkau dan cepat. Industri hiburan pun mendapatkan keuntungan dengan adanya basis internet yang cepat. Musik misalnya menempatkan produknya sebagai konten-konten dalam beberapa situs terkenal di dunia maya, sehingga mempermudah akses orang yang tidak bisa melihatnya melalui media lain seperti televisi. Youtube, situs penyedia video menjadi lahan bagi musik K-pop. Ingat PSY? Melalui 2 video klip musiknya, dia memecahkan rekor-rekor di Youtube. Mengalahkan penyanyi-penyanyi dari Barat yang selalu menjadi idola, video “Gangnam Style” menjadi video pertama di dunia yang ditonton oleh 1 miliar pengakses situs Youtube.[6] Rekor lain yang diciptakan video ini adalah menjadi video yang paling banyak disukai dengan jumlah sekitar 2 juta yang mengklik “Like”.[7] Tak hanya itu, selama 31 minggu berada di chart dunia Billboard, lagu ini mampu mencapai posisi 2.[8] Sungguh pencapaian yang fantastis. Video klip selanjutnya, “Gentleman” berhasil mencatat rekor sebagai video dengan penonton terbanyak selama 24 jam setelah pertama kali diunggah dengan 38 juta penonton.[9] Di chart Billboard, peringkatnya tidak sebagus “Gangnam Style” karena hanya berada di peringkat 5.[10] Namun industri yang benar-benar didukung karena cepatnya internet ini adalah industri game online. Korea Selatan memang dikenal sebagai rajanya game online. Wajar dengan cepatnya internet, mempermudah para pengembang game untuk menciptakan game-game baru. Laporan yang ditulis oleh KOCCA (Korean Creative Content Agency) pada 2013, memperlihatkan bahwa ekspor untuk game online pada tahun 2012 saja sudah mencapai 2,4 triliun dollar Amerika.[11] DFC Intelligence, salah satu lembaga yang mengamati perkembangan teknologi hiburan, memperkirakan bahwa di 2016 nanti, industri game online Korea akan meledak hingga mencapai pendapatan lebih dari 5 triliun dollar Amerika.[12] Sebuah peningkatan yang luar biasa hanya dalam waktu 4 tahun saja dan jumlah tersebut jelas bukan jumlah yang sedikit.
           Bisa dilihat bagaimana 3 hal tersebut menjadi penyokong yang kuat bagi menyebarnya industri hiburan Korea. Kehilangan satu saja akan membuat industri ini goyah. Kehilangan semuanya sangat mungkin berarti bahwa saat itulah industri hiburan Korea akan sulit bertahan di dunia. Barat masih menjadi kompetitor yang kuat, negara tetangga seperti Jepang dan Tiongkok pun tidak bisa dianggap remeh. Bagaimana industri ini mampu menjaga 3 elemen diatas agar selalu mendukungya, akan menjadi kunci penting untuk menjawab sampai berapa lama akan bertahan dalam industri hiburan dunia.




[1] Doobo Shim, “Waxing the Korean Wave”, 2011, hal. 15

[2]Tiket Konser EXO Habis Terjual Tak Sampai 2 Detik” diakses dari http://www.kpopchart.net/2014/04/tiket-konser-exo-habis-terjual-tak.html pad tanggal 10 Mei 2014

[3][News] Hanya Dalam Waktu 5 Menit, Tiket Konser Girls' Generation di Jakarta Habis Terjual” diakses dari
http://www.kpopchart.net/2013/08/news-hanya-dalam-waktu-5-menit-tiket.html#axzz31PQ8bCTk pada tanggal 11 Mei 2014
[4] MCST Korea Selatan dalam tulisan Seung-Ho Kwon & Joseph Kim, “The cultural industry policies of the Korean government and the Korean Wave”, 2013 hal 12
[5] Ibid

[6]“Gangnam Style capai rekor satu miliar” diakses dari http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/12/121222_ganganmstyle_capai_1miliar.shtml pada tanggal 11 Mei 2014

[7] “Gangnam Style Pecahkan Rekor Dunia Guinness” diakses dari http://www.tempo.co/read/news/2012/09/24/112431473/Gangnam-Style-Pecahkan-Rekor-Dunia-Guinness pada tanggal 10 Mei 2014
[8] Chart history artist PSY, diakes dari http://www.billboard.com/artist/277142/psy/chart pada 11 Mei 2014
[9] Deliusno,”Psy kembali pecahkan rekor” diakses dari http://tekno.kompas.com/read/2013/04/23/11530121/Psy.Kembali.Pecahkan.Rekor.YouTube pada tanggal 11 Mei 2014
[10] Chart history artist PSY, diakes dari http://www.billboard.com/artist/277142/psy/chart pada 11 Mei 2014
[11] KOCCA,”Guide to Korean Games Industry and Culture, White Paper on Korean Games”, 2013, hal 7
[12] Ben Strauss, “ Korean games market projected to hit $5 billion by 2016” diakes dari http://www.gamesindustry.biz/articles/2012-04-26-korean-games-market-projected-to-hit-USD5-billion-by-2016-say-analysts pada tanggal 10 Mei 2013