Minggu, 29 Maret 2015

Apa salahnya On Time?



sumber gambar : http://www.molecularecologist.com/wp-content/uploads/2015/01/clock.jpg



"Eh nanti kumpul di sini jam 10 ya" atau "mengharap kehadiran saudara pada acara rapat pada pukul 20.00 WIB". Datanglah tepat pada jam itu dan lihatlah apa yang terjadi?


Ini pengalaman pribadi, dan mungkin banyak yang mengalami, hingga berakhir pada pengkhianatan yang sama. Sebagian acara yang mengundang saya atau saya hadiri, mayoritas sulit sekali berjalan tepat waktu sesuai dengan yang tertera pada undangan. Baik yang formal maupun tidak. Menilik kembali jawaban pertanyaan yang terjadi ada beberapa kemungkinan jawaban. Satu, anda adalah peserta pertama yang datang dengan kemungkinan tambahan anda ditemani tuan rumah atau panitia acara, dengan kemungkinan lain harus menunggu dari 10 menit hingga 1 jam sampai acara dimulai. Dua anda disana bersama undangan yang lain namun acara belum dimulai hingga bermenit-menit kemudian. Ketiga anda datang dan acara sudah dimulai. Kemungkinan ketiga sangat hebat namun jarang pula ditemui.

Wajar. Biasa. Tetapi menjengkelkan. Tidak tepat waktu atau disingkat terlambat, atau bahasa gaulnya ngaret, sudah menjadi keseharian yang sering saya dan mungkin kalian-kalian temui dalam kehidupan masyarakat kita. Atas nama toleransi dan kesabaran hal tersebut dengan mudahnya "diterima". Penerimaan akhirnya berujung ke pengkhianatan, dalam artian yang sudah berusaha tepat waktu akhirnya pada pertemuan-pertemuan mengucap kalimat sakti "Ah telat aja, biasanya juga gitu" atau kalimat-kalimat lain yang sekeluarga dengan itu.

Apa salahnya on time? Apa salahnya tepat waktu? Apa ruginya tidak terlambat? Sampai pada tahap jawabannya "lha daripada nunggu" pertanyaan tersebut langsung mudah terbantahkan. Menunggu menjadi hal yang menyebalkan, apalagi menunggu jodoh *eh salah fokus*. Sabar juga mungkin jadi problem orang-orang kita mungkin.

Kita selalu saja mudah mengatakan "Perjuangkan hak manusia" tetapi tidak pernah melihat bahwa hak untuk memanfaatkan waktu dengan baik juga merupakan salah satu hak yang esensial bagi manusia. Saya yakin banyak diantara kita, dan saya sendiri, terlalu fokus pada hak-hak lain hingga hak untuk mengefektifkan tiap detik dari hidup jadi terlupakan. Terlambat, dilihat dari sisi hak adalah pelanggaran. 1 detik saja bisa mengubah hidupmu apalagi terlambat sampai berjam-jam. Sebegitu teganya kah kita menyia-nyiakan 30 menit demi keterlambatan?

Bagi saya sebagai seorang mahasiswa keterlambatan ini memang ngeselin. "Buat apa lo pinter-pinter kuliah tapi on time aja ga bisa?" "Buat apa lo udah kece-kece ngomongin berjuang demi rakyat tapi on time datang rapat aja ga bisa?" "Iya, gue ngerti lo sibuk, tetapi pasti ada mekanisme yang bikin lo ga usah telat, orang kalau ngapel pacar aja bisa diusahain on time, apa pas ngapel juga telat?" Ya, kadang-kadang umpatan-umpatan semacam itu terlintas, bahkan terlontar dengan angin sebagai pendengarnya. 

Alasan untuk tidak tepat waktu biasanya terbagi menjadi 3, "balas dendam"/"biasanya kan ngaret", "lagi ada acara nih", "waduh aku lupa". Alasan pertama dan ketiga adalah alasan yang paling ngeselin. Ini menunjukkan bahwa tidak ada upaya penghormatan baik terhadap acara yang diadakan ataupun hak si pembuat acara agar acaranya dihadiri. Kalau alasannya satu dan tiga sudah jadi kebiasaan, lah ya wajar nanti kalau jadi wakil rakyat mau beli UPS seharga 5 milyar. Alasan kedua bisa sedikit diterima, tetapi kalau sudah menyampaikan izin. Izin berarti ada upaya untuk menghadiri namun ada halangan, ada bentuk rasa hormat disitu. Namun akan lebih baik lagi, jika undangan sudah datang sejak lama dan kebetulan ada acara lain yang hampir bersamaan, tetapkan lah prioritas, yang paling utama hargai dan hormati yang sudah membuat acara !

Sedikit kata-kata akhir, ingatlah kata-kata dari kakek saya "Lebih baik datang kepagian daripada datang tepat waktu". Yups, kakek saya ini bisa dikatakan selalu mencoba untuk hadir 10 menit sebelum acara dimulai. Kakek saya selalu menasehati bahwa kita harus ngajeni (menghormati) orang lain, dan salah satu caranya adalah menghormati waktu yang orang lain sediakan untuk membuat suatu acara. Apa salahnya sih on time, toh kalau kalian memang benar manusia, harusnya kan juga menghormati manusia lain. Kalau orang lain sering terlambat janganlah ditiru. Tidak perlu "balas dendam" ketika menghadiri suatu acara dan ternyata ngaret, tidak perlu kita menerlambatkan diri di kesempatan lain. Sebelum menggugat pemerintah yang telat menepati janji, lah kaliannya sendiri sudah tepat waktu belum dalam segala janji yang kalian buat? Jangan-jangan juga ngaret karena beribu alasan. Lah katanya penerus bangsa, yang akan memperbaiki negeri ini, tetapi sudah bisa ON TIME?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar