Pagi itu seperti biasanya, Marni sedang menyeduh teh untuk disajikan ke suaminya, Marno, yang bersiap ke kantor. Teh yang diseduh bukan teh celup, namun bukan itu yang penting. Sambil duduk-duduk di ruang makan, Marno membaca koran pagi. Headline-nya terpampang "Siapkan Dompet Anda, Premium dan Solar naik lagi".
"Ealah pak, BBM e mau naik lagi?", kata Marni sembari meletakkan teh di meja.
"Ealah pak, BBM e mau naik lagi?", kata Marni sembari meletakkan teh di meja.
"Iya ki bu, gawat, bapak harus nyari jalan alternatif nih kalau mau kerja", jawab Marno sambil nyruput macam bintang iklan Sariwangi.
"Wee, lha kenapa pak? Biar hemat bensin gitu", balas Marni, yang sekarang memegang sapu.
"Bukan bu, sudah hampir pasti to kalau bapak berangkat kerja lewat jalan itu, Jalan Adisucipto, kan itu macam panggungnya mahasiswa buat demo bu. Lah ini ada berita BBM mau naik ya momen enak bu buat demo, tolak kenaikan BBM turunkan presidennya. Kayaknya yang lagi ngetren sekarang begitu bu", kembali Marno menyeruput teh yang tak terlalu manis itu.
"Iyo e pak, kemarin ibu liat-liat di Facebook juga, banyak temen-temen ibu yang itu, bagi-bagi berita begitu, yang demo menolak BBM naik dan menuntuk presidennya turun. Ada yang membagi artikel gitu pak, yang katanya janji pemerintah masih belum terlaksana. Ibu sih ga baca pak, lha wong pas mau baca kuota internetnya habis, hehehe" tawa Marni sambil mengadahkan tangan, pertanda uang jatah untuk beli pulsa internet harus mendarat dengan segera.
"Ealah, bojoku iki gaul tenan, mainannya Facebook toh. Hahahaha. Tapi kok teman-temanmu di Facebook hebat-hebat ya, membagi-bagi berita yang begitu, peduli berarti sama nasib negara kita, dan ingin membagi masalah agar semua tahu dan memikirkannya bersama", tutur Marno sembari membaca koran, berpura-pura tidak melihat gelagat Marni yang minta pulsa. Untungnya Marni tidak lagi di kantor polisi.
"Teman-teman Marni di Facebook kan kalangan intelektual pak, mereka dulu pas kuliah juga keren-keren begitu kalau ngomong. Ga kayak Marni bisanya senyum-senyum" timpuk Marni, belum menyerah dengan upaya minta pulsanya. "Tetapi pak, apa iya nek BBM naik terus menurunkan presiden itu menyelesaikan masalah? Apa nek janjinya belum terpenuhi lalu kudu diganti? Lah nanti kalau yang baru cuma bikin janji baru gimana?"
"Tetapi senyummu itu menawan lho Mar, hehehe" rayu Marno yang berhasil menurunkan tangan Marni, "Nah masalah itu mari dilihat secara perlahan-lahan. Bapak memang ndak sepinter temen-temenmu di FB tetapi ini jawaban bapak. Tentunya dalam menyikapi kenaikan BBM ini jangan selalu terfokus pada bagaimana mengganti yang diatas agar ke bawahnya ikut diganti. Demo-demo macam ini kan sudah ada sejak jaman pak SBY dulu to bu. Jadi kalau sekarang masih pakai yang sama ya nggak kreatif ini. Selain presiden, pasti ada faktor-faktor lain yang membuat BBM menjadi naik. Kalau dari koran sih katanya karena Rupiah melemah dan harga minyak cenderung naik. Tetapi lagi-lagi ini dikaitkan sama presiden. Pak Presiden memang menjadi pemangku pemerintahan, eksekutif utamane, tetapi menurunkan presiden yang sekarang dan menggantinya yang baru tentu beresiko mendatangkan permasalahan yang baru juga to bu?"
"Jadi bapak malah lebih dukung presiden begitu?" tanya Marni yang sekarang menari bersama sapunya.
"Tetapi senyummu itu menawan lho Mar, hehehe" rayu Marno yang berhasil menurunkan tangan Marni, "Nah masalah itu mari dilihat secara perlahan-lahan. Bapak memang ndak sepinter temen-temenmu di FB tetapi ini jawaban bapak. Tentunya dalam menyikapi kenaikan BBM ini jangan selalu terfokus pada bagaimana mengganti yang diatas agar ke bawahnya ikut diganti. Demo-demo macam ini kan sudah ada sejak jaman pak SBY dulu to bu. Jadi kalau sekarang masih pakai yang sama ya nggak kreatif ini. Selain presiden, pasti ada faktor-faktor lain yang membuat BBM menjadi naik. Kalau dari koran sih katanya karena Rupiah melemah dan harga minyak cenderung naik. Tetapi lagi-lagi ini dikaitkan sama presiden. Pak Presiden memang menjadi pemangku pemerintahan, eksekutif utamane, tetapi menurunkan presiden yang sekarang dan menggantinya yang baru tentu beresiko mendatangkan permasalahan yang baru juga to bu?"
"Jadi bapak malah lebih dukung presiden begitu?" tanya Marni yang sekarang menari bersama sapunya.
"Bukan masalah dukung tidak mendukung bu, tetapi bapak masih melihat kecenderungan sentralistik dari protes terhadap kenaikan BBM. Maksudnya begini bu, kan dulu reformasi muncul karena keberhasilan menggulingkan presiden, hingga akhirnya mengubah segalanya di negeri ini, kecuali cintaku padamu, hehehe, nah pola semacam ini masih banyak dipakai oleh para pemrotes, yakni turunkan saja sentalnya, poros utamanya, dan dalam ini presiden masih dianggap poros utama tersebut." lanjut Marno.
"Ooooo", angguk Marni.
"Nah masalah kenaikan BBM kan kompleks sebenarnya, faktornya baik dalam maupun luar negeri. Jangan minta bapak buat jelasin, bapak ngomong kayak tadi aja udah pusing. Hahaha. Nah masalah janji, ya namanya janji, apa lagi janji politik ya memang fungsinya buat membuai masyarakat to? Tetapi memang bapak juga berharap janji bisa ditepati, tetapi kan semua butuh waktu. Sama kayak bapak dulu, waktu mau nglamar ibu kan juga ngasih janji-janji to biar ibu terpikat ? Hehehe." celetuk Marno yang mencoba memori indah masa lamaran dulu.
"Ooooo", angguk Marni.
"Nah masalah kenaikan BBM kan kompleks sebenarnya, faktornya baik dalam maupun luar negeri. Jangan minta bapak buat jelasin, bapak ngomong kayak tadi aja udah pusing. Hahaha. Nah masalah janji, ya namanya janji, apa lagi janji politik ya memang fungsinya buat membuai masyarakat to? Tetapi memang bapak juga berharap janji bisa ditepati, tetapi kan semua butuh waktu. Sama kayak bapak dulu, waktu mau nglamar ibu kan juga ngasih janji-janji to biar ibu terpikat ? Hehehe." celetuk Marno yang mencoba memori indah masa lamaran dulu.
"Eh iya pak, ibu jadi ingat dulu bapak janji mau beliin mobil, mana hayo?" balas Marni sambil mencubit suaminya.
"Lah kan tadi bapak bilang, pemenuhan janji butuh waktu, termasuk beli mobil bu", jawab Marno, lelaki memang selalu pintar membuat alasan.
"Huuu, lha terus pak kalau sampai pak presiden sekarang belum bisa memenuhi janjinya sampai nanti habis masa jabatan hanjuk pye ?"
"Bapak inget dulu pas kuliah diajari yang namanya continuity and changes. Ada keberlanjutan dan juga perubahan. Kalau memang program-program maupun rencana pemerintah yang sekarang bagus, ya memang seharusnya dilanjutkan ke pemerintahan selanjutnya meski sudah ganti presidennya. Tetapi ya kita juga cuma bisa berharap bu, kan pemimpin juga punya gengsinya sendiri. Siapa tahu penggantinya besok malah ga mau melanjutkan program yang dijalankan pemerintahan sekarang. Hahahaha" tutur Marno, yang kemudian tersadar teh nya habis.
"Bapak inget dulu pas kuliah diajari yang namanya continuity and changes. Ada keberlanjutan dan juga perubahan. Kalau memang program-program maupun rencana pemerintah yang sekarang bagus, ya memang seharusnya dilanjutkan ke pemerintahan selanjutnya meski sudah ganti presidennya. Tetapi ya kita juga cuma bisa berharap bu, kan pemimpin juga punya gengsinya sendiri. Siapa tahu penggantinya besok malah ga mau melanjutkan program yang dijalankan pemerintahan sekarang. Hahahaha" tutur Marno, yang kemudian tersadar teh nya habis.
"Wealah bojoku iki lho, esuk-esuk wes ngomong ngalor-ngidul, kata-katanya sok intelek kayak redaktor surat kabar wae. Hehehe. Lha terus bagaimana kita menyikapi pak? Opo yo mung terima begitu aja?"tanya Marni.
"Yah bapak juga bingung bu, ya berusaha sebisanya lah memperbaiki diri sendiri dulu, keluarga, lingkungan sekitar baru terus begitu sampai ke tingkat yang lebih luas. Tetap peduli pada masalah bangsa, tetap harus mengkritik namun juga harus introspeksi diri bu, jangan sampai mengritik saja namun tanpa solusi. Bapak juga ga pinter ngasih solusi, tetapi yang jelas bapak mencoba melihat semua permasalahan dari segala sudut pandang. Ya paling tidak dengan naiknya BBM ini, keinginan bapak untuk beli sepeda kan bisa direstui kamu, Mar. Hehehehe", jawab Marno yang sudah siap berangkat ke kantor.
"Eeeee, kalau sepeda ne murah we ra popo. Lha bapak mintanya yang jutaan itu e, ora ora, paling yo mung nggo alesan ben saben Minggu esuk iso nyawang mbak-mbak jogging !" Marni menaikkan nada bicaranya, sembari memaksa suaminya untuk segera berangkat.
"Inggih dara ayu, duitnya bapak pakai buat beli Pertamax saja !", gerutu Marno, sambil mengegas motornya yang baru dibeli 2 bulan lalu. Untungnya sudah motor injeksi.
(Yang suka cerpen saya ini silahkan merepost, tetapi sertakan sumbernya ya. Hehehehe. Insya Allah pasangan Marni-Marno akan menjadi projek cerita dalam blog saya ini, yang nantinya berisi kegelisahan maupun unek-unek yang diramu dalam bentuk cerpen. Enjoy reading. :) )
"Eeeee, kalau sepeda ne murah we ra popo. Lha bapak mintanya yang jutaan itu e, ora ora, paling yo mung nggo alesan ben saben Minggu esuk iso nyawang mbak-mbak jogging !" Marni menaikkan nada bicaranya, sembari memaksa suaminya untuk segera berangkat.
"Inggih dara ayu, duitnya bapak pakai buat beli Pertamax saja !", gerutu Marno, sambil mengegas motornya yang baru dibeli 2 bulan lalu. Untungnya sudah motor injeksi.
(Yang suka cerpen saya ini silahkan merepost, tetapi sertakan sumbernya ya. Hehehehe. Insya Allah pasangan Marni-Marno akan menjadi projek cerita dalam blog saya ini, yang nantinya berisi kegelisahan maupun unek-unek yang diramu dalam bentuk cerpen. Enjoy reading. :) )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar